Sabtu, 04 Agustus 2012

Mengapa Saya Harus Menjadi Entrepreneur?

Kemajuan suatu bangsa tidak mungkin tanpa pengusaha (Jusuf Kalla)..

Tepat sekali apa yang diucapkan oleh Bapak Jusuf Kalla, mengingat saat ini pengangguran terjadi di mana-mana, kemiskinan terlihat di banyak tempat sejauh mata memandang. Dalam situs Kompas.com dituliskan bahwa tingkat pengangguran Indonesia mencapai 9 % dan tingkat kemiskinan mencapai angka 13 %. Indonesia telah 67 tahun merdeka, tetapi persentase pengangguran dan kemiskinan tetaplah besar.


Ya, setiap diri kita mulai saat ini harus menjadi entrepreneur. Mengapa harus? Karena agar suatu negara bisa maju, maka membutuhkan entrepreneur sebanyak 2%, tetapi saat ini Indonesia masih memiliki 0,2% entrepreneur !

Mengenai keinginan menjadi entrepreneur/pengusaha/wirausahawan, banyak sekali mindset salah yang beredar di masyarakat umum. Anehnya lagi, itu diwariskan. "Sekolah yang benar, biar bisa MENCARI kerja." Kalimat itulah yang ditanamkan oleh orang tua kita sejak kecil, sejak kita ingin pergi ke sekolah. Akhirnya apa, sulit merubah tatanan sistem yang telah mengakar kuat. Merubah Belief tidak semudah membalik telapak tangan. Sekolah mendidik seseorang penerus bangsa menjadi PENCARI kerja, bukan PEMBUAT kerja. Sekolah mendidik menjadi SURUHAN, bukan PEMIMPIN. Lantas, bagaimana Indonesia development Goals 2025 bisa tercapai jika mindset orang Indonesia terus seperti ini?

Sadarlah wahai saudaraku sebangsa dan setanah air. Negeri ini kaya, tetapi kekayaan ini tidak dinikmati oleh Indonesia. Jika semua orang bermindset pegawai, siapa yang akan merebut aset milik sendiri itu dari tangan orang lain? Di mana harga dirimu, kekayaanmu dirampas oleh orang lain, tetapi malah kamu menjadi pembantu untuk orang yang merampas kekayaanmu?

Kadang muncul mindset lain yang juga salah, yakni memandang negatif seorang entrepreneur. Entrepreneur inilah, itulah, tamak hartalah, merenggut kehidupan sosial lah. Apakah ini benar? Jangan-jangan ini hanyalah pengaruh barat agar mental orang Indonesia tetaplah mental JONGOS. Iya benar, propaganda ini adalah akal-akalan orang barat, agar tidak banyak manusia Indonesia menginginkan diri menjadi seorang Entrepreneur. Pencucian otak? Iya benar, mereka berdalih kemanusiaan. Padahal, kemiskinan adalah masalah kemanusiaan yang utama. Dan salah satu solusinya adalah dengan apa, dengan menanamkan jiwa entrepreneur dalam diri setiap manusia Indonesia. Dengan mental entrepreneur, dijamin tidak ada orang miskin di dunia ini, mengapa? Karena entreprenur adalah seseorang pekerja keras, terbuka, pandai melihat peluang, berani mencoba hal baru, bersungguh-sungguh, tidak bergantung kepada orang lain, independen, dan yang paling penting merdeka. Tamak? Penyakit macam apa lagi ini, seseorang yang penghasilannya kecil dibandingkan seseorang yang penghasilannya besar, zakat malnya lebih besar mana?

Mindset ketiga yang juga salah adalah Entrepreneur diidentikkan dengan keuntungan sebanyak-banyaknya. Tidak sesempit itu teman. Itu juga pengaruh asing agar mental bangsa Indonesia tetaplah menjadi JONGOS, dan memandang hina profesi ENTREPRENEUR. Tidakkah engkau lihat bahwa Rasulullah SAW adalah seorang entrepreneur? beliau tidak mau dijadikan raja/pegawai pemerintahan.

Entrepreneur adalah suatu proses dan sebuah kepribadian yang kaya, terus bangkit meski gagal, terus berusaha meskipun seakan-akan tidak ada hasilnya dan bahkan rugi, dan keuntungan itu pada akhirnya menjadi yang terakhir. Keuntungan itu adalah bonus. Yakinlah, semua potensi terbaikmu akan keluar jika kamu memulai yang namanya Entrepreneur.

Mari bersama-sama merubah mindset, merubah masa depan Indonesia yang lebih baik.

I'm the next Entrepreneur

0 komentar:

Poskan Komentar